Menyusuri Ulos Batak, Berkelana dengan Sandra (VII)
by Mja Nashir on Thursday, 28 October 2010 at 06:48
Rupanya ia masih menambahkan tulisan lagi, “Ah! Sebuah SMS dari Mas Nashir. Rupanya dia sudah bangun dan segar dari tidur malamnya. Sedang memotret sunrise di lantai bawah. Oh ya, hotel kami berada di tepi danau yang besar.” Begitulah ia meneruskan catatannya setelah menerima SMS dariku yang berbunyi; “Apakabar Sandra? Sudah bangun? Saya di lantai bawah di tepi danau untuk memotret matahari terbit.” SMS ini kuterbangkan dari tepi danau, masuk ke dalam kamarnya dan membuatnya gembira.
Seekor elang melayang di atasku mengepak di langit yang mulai terang, berputar di atas danau lalu hinggap di pohong besar nun di sana, menjumpai
Kusentuhkan tanganku pada dingin air danau, memberi salam. Sinar matahari menaikkan volume terang. Permukaan air tembus pandang. Ikan-ikan kecil muncul berkecipak dari dalam karang. Ganggang-ganggang menari-nari dikecupi angin lembah sebelah.
Ketika sedang asyik menyapa ganggang-ganggang kulihat Sandra sudah berada di teras, di meja menghadap ke danau.
Dari kisahnya kurasakan betapa berat bagi Sandra di awal-awal tahun risetnya ke Muara yang masih terpencil. Apalagi pasar yang semestinya bisa dijadikan sebagai pusat informasinya baru saja terbakar. Kubayangkan ia akhirnya keliling ke pelosok-pelosok Muara ini berjalan kaki. Ia yang masih remaja dan sendirian. Namun di balik kisah kedatangan pertama yang banyak menjumpai kondisi-kondisi tidak mengenakkan ternyata ia sempat menemukan kenyataan yang sampai sekarang ia kenang dengan baik.
Itulah kisah Sandra pertama kali datang ke Muara. Pada tahun 1986 ia datang lagi. Pengalaman 1986 merupakan pengalaman yang sangat menarik bagi Sandra. “Kedatangan saya di tahun 1986 ditemani seorang Belanda. Erna Lohuis namanya. Kebetulan dia tinggal di dekat kost saya di asrama HKPB
Wajah-wajah hangat penuh keakraban dari ibu-ibu para partonun itulah yang akhirnya menjadi sebuah foto besar berukuran 2 halaman dan menjadi pembuka dari buku Sandra Niessen “Legacy in Cloth – Batak Textiles of Indonesia” (KITLV Press Leiden, 2009). Wajah-wajah itu pulalah yang akan kami cari di Muara Nauli ini.
***
Usai sarapan pagi aku dan Sandra keluar hotel. Jejak-jejak debu perjalanan panjang seharian kemarin yang melengket tebal di dinding-dinding mobil telah dicuci bersih oleh Pak Jery. Interior mobil sudah rapi dan wangi. Pak Jerry selalu tangkas dan cermat dalam bekerja.
“Selamat pagi Miss Sandra. Apa semua sudah OK?”, tanya Pak Jery dengan gaya kocaknya.
“OK Pak. Selamat pagi,” jawab Sandra membuka pintu dan masuk ke mobil. “Bagaimana Pak? Pak Jery OK?”
“Jerry selalu OK,” kata Pak Jery siap mengemudi. “Kita ke mana sekarang Miss Sandra?”
“Jalan saja Pak Jery. Nanti kita bertanya pada orang.”
Kami melaju di atas jalan kecil beraspal di tepi danau Toba yang berada di sisi kiri kami. Di sebuah pertigaan karena ada jalan ke kiri dan ke kanan, kami berhenti di depan rumah yang menghadap ke jalan kami bermula. Sandra menanya pada seorang wanita. Wanita ini tak mengenali lembar foto
***
Kembali kami ke pertigaan semula. Memasuki cabang jalan satunya. Banyak rumah-rumah di kampung ini. Kami terus melaju. Seorang pemuda berjalan di depan, membawa parang di tangan. Pemuda yang berjalan membelakangi mobil ini akhirnya berhenti sejenak memandang ke arah kami.
“Kita tanya dia saja. Saya rasa dia tahu,” ujar pak Jery menghentikan mobil.
“Horas amang, adong partonun dison?”, seru Sandra padanya dari kaca jendela mobil terbuka.
Pemuda tampak kaget mendengar suara Sandra. Ia bergegas ke arah mobil kami. Kami pun keluar dari mobil. Sandra menunjukkan lembar foto. Dipandanginya foto itu lekat-lekat, pindah ke wajah Sandra.
“Ini mamakku,” katanya sambil menunjuk salah satu wajah di foto. “Mari ke rumah dulu.”
Feeling Pak Jery ternyata benar. Ia segera memundurkan mobil dan masuk ke pekarangan rumah pemuda. Di pekarangan inilah dulu Sandra dan temannya, Erna berjumpa ibu-ibu para partonun. Ya, Sandra masih mengenali pekarangan ini dengan baik. Pemuda yang kami temui ini bernama Maruahal Siregar. Mamaknya bernama Ompu Josua.
“Mamakku masih di ladang,”
“Apakah jauh ladang mamakmu?”
“Lumayan jauh.”
***
Maruahal mengawal ke arah semak-semak yang tumbuh tinggi. Semak yang ditumbuhi bunga-bunga matahari. Kami lewati semak-semak ini. Aku berjalan di belakang Sandra. Tanganku tetap standby dengan kamera video. Aku sempat dengar suara Sandra menyeru padaku karena banyak reranting di tanah yang tak rata, “Hati-hati, Mas.”
“Ya. Ini aku ini,” kata Ompu Josua gembira memperhatikan wajahnya yang lebih muda kala itu. “Kalau ibu di sebelahku ini sedang mengajar sekarang.”
Di ladang ini mereka mengingat kembali masa lalu ketika bertemu. Perjumpaan yang begitu luar biasa dan haru. Kehangatan yang serupa kala mereka dulu berjumpa. Mungkin lebih lagi sebab ini perjumpaan kembali.
Daun-daun ketela di tangan Ompu Josua yang baru dipanen itu bagiku rasanya seperti menyiratkan kenyataan kehidupan ulos di Muara saat ini. Pahit. Dan akan pahit jika tak pandai mengolahnya kembali dengan baik. Ompu Josua dulunya adalah salah satu partonun Muara yang sangat kental dengan tradisi biru Samosir dan ulos Harungguan yang luar biasa. Barangkali karena beratnya kehidupan sekarang banyak partonun yang akhirnya ‘terpaksa’ meninggalkan tenun tradisi dan bekerja keras di sektor lain yang dirasa bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Meskipun kenyataannya aku yakin mereka masih memiliki kemampuan itu. Apalagi orang seperti Ompu Josua masih hidup. Mesti ada orang-orang lain terutama generasi penerus yang melanjutkan pengetahuannya itu. Sayang sekali jika semua itu hilang begitu saja, pudar diterbangkan angin zaman.
Aku masih mengabadikan prosesi kecil bermakna dalam ini lewat kamera video di tanganku. Rupanya prosesi sederhana ini didengar warga sekolah. Anak-anak berseragam sekolah satu persatu berlarian kemari, mengerumuni kami. Guru-guru juga tak ketinggalan. Mereka semua begitu peka dengan apa yang sedang terjadi. Angin dari ladang Ompu Josua dan pinggiran jalan ini rasanya seperti telah berhembus ke sekolah mereka. Angin kebudayaan yang membentuk peristiwa budaya di pinggir jalan ini.
Di tengah keliling anak-anak sekolah serta para guru, Sandra dan Ompu Josua duduk bersama di bawah pohon di atas rerumputan. Sandra memperlihatkan sebuah halaman di bukunya pada Ompu Josua. Foto saat ibu-ibu di kampungnya - Huta Na Godang - sedang manortor bersama. Ompu Josua ada di situ saat itu dan Sandra sedang duduk bersama penenun di bawah rumah kayu. Lalu Sandra membuka halaman demi halaman berisi foto-foto ulos tradisional - terutama Harungguan - yang foto-fotonya diambil Sandra dari bermacam-macam museum di Eropa. Sandra mengenali betul bahwa ulos-ulos Harungguan yang luar biasa itu berasal dari Muara. Ompu Josua juga mengenali ulos-ulos harungguan itu.
“Ulos-ulos Harungguan dari Muara ini sejak ratusan tahun lalu dibawa oleh orang-orang Belanda dan disimpan di museum-museum sampai sekarang. Jadi ulos-ulos Batak lama semuanya ada di Belanda. Saya pikir sebaiknya koleksinya ada di sini, bersama orang Batak sendiri, segala macam ulos Batak itu,” tutur Sandra dengan nada prihatin.
Kedatangan Sandra untuk penyerahan buku kepada Ompu Josua ini atas bantuan temannya bernama Wendela ter Horst di Oosterbeek. Seorang tokoh perempuan progressif di bidang perjuangan melawan sistem yang tidak adil di mana menurutnya segala ketidakadilan perlu dikoreksi kembali. Sandra menuliskan nama teman itu di halaman depan buku serta pesannya.
”Semoga buku ini mendorong Ibu untuk melestarikan tradisi tenunan-tenunan batak,” demikian Sandra membacakan pesan Wandela itu kepada Ompu Josua. “Jadi ibu dengan buku ini agar bisa memberitahukan kepada orang-orang tentang tenunan Batak.”
Sandra membuka kembali bukunya. Kepada Ompu Josua Sandra menunjukkan halaman pembukaan. Pada 2 halaman besar itu tergambar wajah Ompu Josua bersama ibu-ibu penenun lainnya dengan tawa dan senyum yang sumringah. Dari viewfinderku terlihat Ompu Josoua bergembira. Perasaannya ia ekpresikan dengan tawa bahagia. Ada rasa kebanggan yang tak terkira. Dia berucap pada Sandra, “Eda ... Eda ... terimakasih.”
“Saya yang harus mengucapkan terima kasih karena saya boleh taruh foto ibu di halaman buku saya ini,” ujar Sandra sambil menyerahkan Legacy in Cloth kepada Ompu Josua. Ompu Joshua menganggukkan kepala.
“Mauliate. Mauliate. Terima kasih banyak,” kata Ompu Joshua menjabatkan tangannya erat pada tangan Sandra.
Semua menyaksikan penyerahan buku pada Ompu Josua dengan hidmat. Tampaknya anak-anak sekolah yang barangkali tidak tahu persis latar belakang peristiwa pertemuan ini namun mereka bisa merasakannya. Begitu juga dengan guru-guru sekolah ini. Kulihat seorang bapak guru mengamati semua lembar foto - foto-foto para partonun Muara sejak 1979 sampai 1986 - yang tergeletak di samping Sandra dan Ompu Josua. Selesailah penyerahan buku. Sandra dan Opung Joshua berdiri. Seketika itu pula bapak guru ini dan semua guru mengharap pada Sandra agar memberikan 1 eksemplar buku untuk perpustakaan sekolah. Pihak sekolah merasa wajib menyambut kehadiran Sandra dengan baik. Apalagi kedatangan Sandra ke daerah ini atas nama kepedulian terhadap kebudayaan Batak. Dan sekolahan ini adalah sekolahan menengah bidang kepariwisataan. Sandra merasa hal ini masih nyambung.
***
“Sebelum saya berangkat kemari saya menghubungi Indonesian Heritage Society agar bisa membantu proyek pulang kampung ini. Buku ini hasil kerja saya yang akhirnya saya kerjakan menjadi buku di luar negeri. Tapi saya tahu orang sini tidak akan dapat hasil dari kerja saya. Padahal pekerjaan saya ini, semua informasinya dari orang Batak. Dalam hati saya pikir ini tidak baik. Jadi buku harus sampai sini juga. Akhirnya Indonesian Heritage Society mau menolong saya untuk tiga eksemplar buku. Salah satunya adalah buku ini. Maka atas nama Indonesian Heritage Society saya serahkan satu buku untuk SMK Negeri 1 Muara ini.” Demikian Sandra membuka orasi di antara meja
Dari ruangan Sandra melangkah keluar. Berdiri di antara para guru. Di hadapan para siswa Kepala Sekolah memberi sambutan atas kedatangan Sandra. Beliau menyampaikan tentang arti pentingnya sebuah buku.
Maka ketika diberi waktu dan tempat Sandra berkata, “Saya senang berada di sini, di Indonesia. Khususnya di Muara. Saya senang sekali. Dulu saya datang kesini 24 tahun lalu untuk meneliti ulos. Kenapa ulos? Sekarang tidak banyak lagi yang menenun kan? Siapa di sini punya mamak yang masih menenun?” Sandra bertanya pada para siswa. Kedua matanya menunggu ada yang tunjuk jari.
Sambutan Sandra bagai air menyejukkan di padang gersang. Kulihat wajah para siswa yang tadi menunjuk jari berseri-seri. Juga semua siswa yang berdiri di halaman ini. Kulihat mereka menjadi semakin bangga akan kampung halamannya sendiri. Seksama mereka menyimak pelajaran-pelajaran penting dari Sandra.
“Selama ini saya keliling ke museum-museum yang ada di Belanda, Perancis, German, Belgia. Saya melihat banyak ulos Batak disimpan di museum-museum itu. Pertama kali sejak 1852 ulos-ulos itu dibawa oleh orang Barat yang kemari yaitu Van Der Tuuk. Dia datang sebagai ahli bahasa yang akhirnya belajar Bahasa Batak dan menerjemahkan AlKitab (Injil) ke dalam Bahasa Batak. Setelah itu ada ratusan ulos yang dikumpulkan orang-orang Barat dan akhirnya disimpan di museum-museum di Barat. Sewaktu saya masih muda, saya kemari. Saya lihat bahwa pengetahuan ulos di daerah Batak ini memang sungguh hebat. Luar biasa,” ujar Sandra menutup orasi. Semua yang ada di halaman sekolah bertepuk tangan. Para siswa bergerak ke arah Sandra. Ada yang minta tanda tangan. Ada yang minta foto bersama. Ada juga yang mewancarainya dengan bahasa Inggris. Suasana begitu hidup dan akrab. Baik siswa, Sandra, dan para guru melebur menjadi satu.
Kulihat ke belakang, di seberang sekolah Ompu Josua sedang duduk di depan ladangnya. Dari situ Ompu Joshua dan keluarganya menyaksikan suasana sekolah. Kuberanikan diriku menemui Sandra. Mengusulkan agar Ompu Josua diajak masuk untuk melebur dengan semua warga sekolah di halaman ini. Sandra pun setuju dengan usulku. Mengingat bagaimanapun dialah salah satu sosok pahlawan di daerah ini.
Ompu Josua akhirnya membaur di halaman sekolah. Di kehangatan suasana, ia rapat erat di sisi Sandra. Anak-anak dan para guru berdiri di tengah keduanya. Bukit-bukit nun di belakang menjulang dan memanjang menampakkan wajahnya yang cerah. Di bawah Sang Saka berkibar-kibar di udara kuabadikan mereka.(***mjansr2010***)
***
=======
MJA Nashir, menuliskannya kembali di TujuhlangiT Jawa Tengah, 27 Oktober 2010
======================================
Tanpa mengurangi rasa hormat bagi siapa pun yang mendapatkan dan membaca tulisan ini mohon agar meninggalkan jejaknya di ruang yang telah tersedia sebagai bentuk keterbukaan Anda pada diri Anda sendiri serta kepedulian Anda atas tulisan ini. Mohon maaf jika ada salah kata, ucap atau apapun. Salam damai. Terima kasih.
======================================

No comments:
Post a Comment